Belajar tentang hidup dari Steve Job August 19, 2008
Posted by ahmadmz in Blogroll.Tags: apple, iphone, ipod, steve, work
trackback
![]()
Pidato Sambutan Steve Job saat Kelulusan
Berikut adalah teks sambutan dari Steve Jobs, CEO dari Apple Computer
dan Pixar Animation Studios, dibawakan pada tanggal 12 Juni 2005.
Saya diberi kehormatan untuk bersama kalian di hari pertama di salah
satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus kuliah.
Bahkan sesungguhnya inilah saat terdekat saya terlibat dalam upacara
wisuda. hari ini saya ingin berbagi tiga cerita dalam kehidupan saya.
Hanya itu, tidak lebih. Hanya tiga cerita.
Cerita pertama adalah mengenai menghubungkan titik-titik.
Saya putus kuliah dari Reed College setelah 6 bulan pertama, tapi saya
tetap ada di kampus selama 18 bulan berikutnya sebelum saya benar-benar
berhenti. Jadi kenapa saya keluar?
Dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah seorang mahasiswi
muda dan tidak menikah, ia memutuskan untuk menyerahkan saya untuk
diadopsi. Ia sangat menginginkan agar saya diadopsi oleh lulusan
universitas, jadi semuanya sudah diatur agar saya akan diadopsi pada
saat lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Hanya saja, saat saya
lahir, mereka ternyata menginginkan seorang anak perempuan. Jadi
orangtua angkat saya, yang masuk dalam daftar tunggu, menerima telepon
di tengah malam yang menanyakan: “Kita ada satu bayi laki-laki, kalian
mau?” Mereka berkata, “Tentu saja.” Di kemudian hari ibu kandung saya
menemukan bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah
angkat saya tidak pernah lulus SMA. Ibu kandung saya menolak
menandatangani berkas akhir adopsi. Ia baru rela beberapa bulan kemudia
ketika orangtua angkat saya berjanji bahwa saya akan kuliah suatu hari
nanti.
Dan 17 tahun kemudian saya benar-benar masuk kuliah. Namun bodohnya
saya memilih tempat kuliah yang nyaris sama mahalnya dengan Stanford,
dan seluruh tabungan orang tua angkat saya habis untuk membiayai kuliah
saya. Setelah enam bulan, saya tidak dapat melihat arti kuliah ini.
Saya tidak punya tujuan hidup dan tidak mengerti bagaimana kuliah dapat
menolong saya memiliki tujuan hidup. Sedangkan saya sudah menghabiskan
semua uang orangtua saya yang telah mereka tabung seumur hidup. Jadi
saya memutuskan untuk keluar dan percaya semuanya akan beres. Cukup
menakutkan juga saat itu, tapi jika saya tengok kembali itu adalah
salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Begitu saya putus
kuliah saya dapat berhenti masuk kelas wajib yang tidak saya sukai, dan
mulai masuk ke kelas yang tampaknya menarik.
Tidak selamanya romantis sih. Saya tidak punya kamar asrama, jadi saya
tidur di lantai kamar teman saya, saya menukar botol coke di deposit 5
untuk membeli makanan, dan saya akan berjalan sejauh 7 mil melintasi
kota setiap minggu malam untuk mendapatkan makan malam yang enak di
kuil Hare Krishna. Aku sangat menyukainya. Dan ternyata dengan menuruti
rasa ingin tahu dan intuisi, saya memperoleh hal yang berharga di
kemudian hari. Ini salah satu contohnya:
Reed College pada masa itu mungkin memiliki tulisan kaligrafi terbaik
di negeri ini.Di semua poster kampus, semua label di setiap laci,
ditulis tangan dengan kaligrafi yang indah. Karena saya sudah keluar
dari kuliah dan tidak harus mengambil kelas tertentu, saya memutuskan
untuk mengambil kelas kaligrafi untuk belajar caranya. Saya belajar
tipe tulisan serif dan san serif, tentang memvariasikan jumlah jarak
antara kombinasi huruf yang berbeda, tentang apa yang membuat para
tipografis hebat menjadi hebat. Itu adalah sesuatu yang indah,
bersejarah, berseni, sedemikian rupa sehingga ilmu pengetahuan tidak
dapat menyamainya, dan menurut saya itu sungguh mengagumkan.
Tidak ada satupun yang sepertinya akan diterapkan dalam kehidupan saya.
Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami merancang komputer Macintosh
pertama, semuanya saya ingat kembali. Dan kami merancangnya di Mac. Itu
adalah komputer pertama dengan tipografi yang indah. Jika saya tidak
ikut kelas itu di kuliah, maka Mac tidak akan punya beragam tulisan
atau huruf yang berjarak dengan proporsional. Dan karena Windows
hanya meniru Mac, sepertinya tidak ada PC yang akan memiliki tipografi
yang indah. Jika saja saya tidak pernah putus kuliah, saya tidak akan
pernah belajar di kelas kaligrafi ini, dan komputer pribadi tidak akan
memiliki tipografi yang bagus seperti sekarang ini. Tentu saja tidak
mungkin menghubungkan titik-titik itu ke masa depan saat saya masih di
kampus. Tapi terlihat sangat, sangat jelas jika ditinjau sepuluh tahun
kemudian.
Sekali lagi, kita tidak dapat menghubungkan titik-titik di masa depan;
kita hanya dapat menghubungkannya saat kita menengok ke belakang. Jadi
kita harus percaya bahwa titik-titik itu suatu saat akan terhubung di
masa mendatang. Kita harus percaya pada sesuatu – insting, takdir,
kehidupan, karma, apalah. Pendekatan ini tidak pernah mengecewakan
saya, bahkan telah membuat semua perubahan dalam kehidupan saya.
Cerita kedua saya adalah mengenai cinta dan kehilangan.
Apakah saya beruntung? Saya menemukan apa yang saya sangat suka lakukan
dalam kehidupan lebih awal. Woz dan saya memulai Apple di garasi
orangtua saya saat usia saya 20 tahun. Kami bekerja dengan keras, dan
dalam 10 tahun Apple telah berkembang dari hanya kami berdua di garasi
menjadi sebuah perusahaan senilai 2 milyar dollar dengan lebih dari
4000 pegawai. Kami baru saja meluncurkan karya terbaik kami – MacIntosh
- setahun yang lalu, dan saya baru saja berusia 30. Kemudian saya
dipecat. Bagaimana bisa kita dipecat dari perusahaan yang kita mulai?
Hmm, seiring perkembangan Apple, kami mempekerjakan seseorang yang saya
pikir sangat berbakat untuk menjalankan perusahaan dengan saya, dan
semuanya berjalan lancar di tahun-tahun pertama. Namun kemudian
pandangan kami mengenai masa depan mulai berbeda dan akhirnya kami
saling bertentangan. Dewan direksi memihak ia. Jadi pada usia 30 saya
keluar. Dan itu sangat terbuka. Apa yang telah menjadi fokus kehidupan
saya telah hila ng, dan itu sangat menyakitkan.
Saya benar-benar tak tahu apa yang harus dikerjakan selama beberapa
bulan. Saya merasa bahwa saya sudah mengecewakan generasi pengusaha
sebelumnya – bahwa saya telah menjatuhkan tongkat yang telah diserahkan
kepada saya. Saya bertemu DAvid Packard dan Bob Noyce dan mencoba
meminta maaf karena telah mengacaukan segalanya. Saya merasa sangat
gagal di hadapan masyarakat, dan saya bahkan berpikir untuk pergi dari
situ. Tapi sesuatu perlahan mulai terpikir. Saya masih mencintai apa
yang telah saya lakukan. Kejadian di Apple tidak merubah sedikitpun.
Saya telah ditolak, namun saya masih mencintainya. Jadi saya memutuskan
untuk memulai lagi.
Saya tidak sadar saat itu, tapi ternyata dipecat dari Apple merupakan
hal terbaik yang pernah terjadi dalam diri saya. Beban berat menjadi
sukses digantikan dengan perasaan enteng menjadi orang baru lagi,
menjadi kurang yakin mengenai apa saja. Hal ini membebaskan saya untuk
memasuki salah satu periode paling kreatif dalam kehidupan saya.
Selama lima tahun berikutnya, saya memulai sebuah perusahaan bernama
NeXT, sebuah perusahaan lain bernama Pixar, dan jatuh cinta dengan
seorang wanita luar biasa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar
berlanjut dengan menciptakan film dengan fitur animasi komputer yang
pertama kali di dunia, Toy Storu, dan kini menjadi studio animasi
paling sukses di dunia. Dalam salah satu peristiwa yang luar biasa,
Apple membeli NeXT, saya kembali ke Apple, dan teknologi yang kami
kembangkan di NeXT menjadi jantung kehidupan Apple. Dan Laurene dan
saya bersama-sama memiliki keluarga yang bahagia.
Saya cukup yakin bahwa hal ini tidak ada yang akan terjadi jika saya
tidak dipecat dari Apple. Memang sebuah pil pahit buat saya, namun saya
pilir memang ini diperlukan. Terkadang kehidupan memukul kita dengan
sangat keras. Jangan hilang kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya
yang membuat saya terus bertahan adalah saya mencintai apa yang saya
lakukan. Kalian harus menemukan apa yang kalian cintai, dan
satu-satunya cara untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa adalah
mencintai apa yang kalian lakukan. Jika kalian belum menemukannya,
teruslah mencari. Jangan menetap. Sama seperti semua hal mengenai hati,
kalian akan tahu saat kalian menemukannya. Dan seperti hubungan yang
indah, ini akan membaik seiring waktu. Jadi teruslah mencari hingga kau
temukan. Jangan menetap.
Cerita saya yang ketiga mengenai kematian.
Ketika saya berusia 17 tahun, saya membaca sebuah kalimat bijak yang
bunyinya seperti ini, “Jika kau menjalani tiap hari dalam hidupnya
seakan itu adalah hari terakhirnya, suatu akhir mungkin saja kau
benar.” Ini sungguh mengesankan saya, dan sejak saat itu, selama 33
tahun terakhir, saya memandangi cermin setiap pagi dan bertanya pada
diri sendiri, “Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hiduku, apakah
aku akan mau melakukan apa yang akan aku lakukan hari ini?” Dan setiap
kali jawabannya adalah “Tidak” terlalu lama selama beberapa hari, saya
tahu saya perlu mengubah sesuatu.
Mengingat bahwa saya akan mati suatu saat adalah hal yang paling
penting yang saya temukan untuk menolong saya membuat keputusan penting
dalam hidup. Karena hampir semuanya – semua keinginan,semua kebanggaan,
semua ketakutan akan malu atau kegagalan – akan menjadi tidak penting
dibandingkan menghadapi kematian, sehingga hanya itu saja yang
benar-benar penting. Mengingat bahwa kalian akan mati merupakan cara
terbaik yang saya gunakan untuk menghindari perangkap pemikiran kalian
akan kehilangan sesuatu. Kalian sudah telanjang. Tidak ada alasan untuk
tidak menuruti kata hati.
Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosa mengidap kanker. Saya
menjalani scan pukul 7.30 pagi, dan tampqk jelas sebuah tumor di
pankreas saya. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter
memberitahu saya bahwa hampir dipastikan ini jenis kanker yang tidak
dapat disembuhkan, dan harapan hidup saya hanya enam bulan lagi. Dokter
saya menganjurkan saya pulang ke rumah dan membereskan urusan saya,
sebenarnya ini isyarat dokter untuk mempersiapkan kematian. Ini berarti
mencoba memberitahu anak-anak kita semuanya yang kita pikir baru akan
dikatakan 10 tahun mendatang dalam waktu hanya beberapa bulan kemudian.
Ini berarti harus memastikan semuanya sudah beres sehingga sebisa
mungkin meringankan keluarga. Ini berarti ucapan selamat tinggal.
Saya hidup dengan diagnose itu sepanjang hari. Sore harinya saya
menjalani biopsi, dimana mereka memasukkan sebuah endoskopi melalui
tenggorokan, perut, usus, memasukkan jarum ke dalam pankreas, dan
mengambil beberapa sel dari tumor. Sewaktu itu saya dibius, namun istri
saya, yang saat itu hadir, memberitahu saya bahwa ketika
para dokter memeriksa sel-sel dengan mikroskop, mereka mulai berteriak
karena ternyata sel-sel itu adalah jenis kanker pankreas yang cukup
jarang dan dapat disembuhkan melalui operasi. Saya melalui operasi itu
dan baik-baik saja hingga saat ini.
Itu adalah saat terdekat saya menghadapi kematian, dan saya berharap
hanya itulah hingga beberapa dekade mendatang. Karena sudah melalui
tahapan ini, saya bisa lebih yakin mengatakan ini bahwa kematian adalah
sebuah konsep yang berguna namun murni intelektual.
Tidak ada yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin ke surga tidak mau
mencapainya dengan cara mati. Namun kematian adalah tujuan sama untuk
kita semua. Tidak ada yang bisa menghindarinya. Dan seperti itu
seharusnya karena Kematian mungkin merupakan satu-satunya penemuan
terbaik dari Kehidupan. Itu adalah agen perubahan Kehidupan. Ia
memberikan jalan untuk yang baru dengan menyingkirkan yang lama. Kali
ini yang baru adalah kalian, namun suatu hari tidak lama dari sekarang,
kalian akan menjadi tua dan disingkirkan. Maaf jika ini terdengar
terlalu dramatis, namun memang demikian.
Waktu kalian terbatas, jadi jangan habiskan dengan hidup dalam
kehidupan orang lain. Jangan diperangkap oleh dogma, yaitu hidup dengan
hasil daya pikir orang lain. Jangan biarkan opini orang lain
mengaburkan suara hati kalian. Dan yang terpenting, punyailah
keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisimu. Terkadang mereka
sudah tahu kalian akan menjadi apa. Yang lainnya hanyalah sampingan.
Ketika saya masih muda, ada sebuah terbitan luar biasa bernama Katalog
Seluruh Dunia, yang menjadi salah satu kitab suci generasi saya. Ini
dikarang oleh seseorang bernama Stewart Brand tak jauh dari sini di
Menlo Park, dan ia menghidupkannya dengan sentuhan puitisnya. Ini
terbit akhir tahun ‘60-an, sebelum komputer pribadi dan penerbitan
menggunakan desktop, jadi itu semua dibuat dengan mesin tik, gunting,
dan kamera polaroid. Seperti Google dalam bentuk buku 35 tahun sebelum
Google muncul: itu adalah hal idealis dan dilengkapi dengan alat bantu
yang keren dan catatan yang bagus.
Stewart dan timnya mengeluarkan beberapa edisi Katalog Seluruh Bumi,
dan ketika sudah beredar, mereka mengeluarkan edisi terakhir. Itu
pertengahan tahun ‘70-an, dan saya seusia kalian. Di halaman belakang
edisi terakhir mereka ada sebuah foto mengenai jalan perkampungan waktu
dini hari, jalan yang mungkin kalian akan ikuti jika kalian suka
berpetualang. Di bawahnya ada kata-kata” :Tetaplah Lapar. Tetaplah
Bodoh.” Itu adalah pesan perpisahan mereka sebelum mereka pergi.
Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh. Dan saya selalu berharap hal itu untuk
saya sendiri. Dan sekarang, kalian sebagai lulusan baru, saya
mengharapkan itu untuk kalian.
Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.
Terima kasih banyak.
Comments»
No comments yet — be the first.